Sekolah
dan bekerja di luar negeri tak membuat
Amar Kusuma lupa dengan kampung halamannya. Justru,
ia masih bercita-cita ingin mencari ilmu sebanyak mungkin di negeri orang, agar bisa pulang dengan membawa ilmu. Siapa sangka, anak muda hebat ini adalah salah satu warga Desa Blederan, Wonosobo.
Amar
Kusuma yang akrab disapa Amar ini, lahir tanggal 27 Maret 23 tahun lalu.
Pemuda yang punya hobi
musik ini adalah putra pertama dari tiga bersaudara. Kedua
adiknya adalah Elan Baskara (18) dan Adyan Pamungkas
(13). Ayah
Amar adalah Slamet
Widodo dan Ibu adalah Siti
Widiyanti, warga Dusun Klesman Kulon, Blederan. Mereka berprofesi sebagai guru SMP. Makanya, tak mengherankan jika pendidikan adalah nomor
satu bagi Amar.
![]() |
Amar dan Keluarga di Singapura |
Setelah
selesai
pendidikannya di SD Unggulan
Wonosobo dan
SMP Negeri 1 Wonosobo,
Amar melanjutkan pendidikannya
di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Disanalah ia mulai mempelajari
bidang astronomi. Tahun
2008, ia meraih medali emas saat mengikuti ajang International Olympiad on
Astronomy and Astrophysics.
Bukti prestasinya inilah yang memuluskan jalannya untuk melanjutkan studi di Nanyang Technological University,
Singapura.
Setelah kuliah, Amar memutuskan untuk tetap di
Singapura dan bekerja di REC SOLAR sebagai Process Engineer, sebuah perusahaan
yang memproduksi sel surya guna
pembangkit listrik tenaga matahari. Sebagai Process Engineer, Amar bertugas mengawasi performa produksi di
perusahaan, melakukan penelitian untuk meningkatkan hasil produksi, dan menganalisa mesin yang mengalami
penurunan performa.
Menduduki jabatan yang menjanjikan di
Singapura tidak membuat Amar ingin berhenti. Ia masih ingin
mencari studi lanjutan untuk S2,
dan kemudian pulang ke
Indonesia membawa ilmu di bidang energi terbarukan. Amar seperti kacang yang selalu ingat kulitnya, meski sudah hidup enak di luar
negeri, tujuan akhirnya adalah di Indonesia.
Lama
tinggal di Singapura membantu Amar mengenal bagaimana kehidupan di Singapura. Segi positifnya, tinggal di sana mengajarkannya untuk disiplin,
apalagi warga Singapura terkenal sangat kompetitif, sehingga sangat diperlukan ketekunan dan kerja keras agar tidak tertinggal.
Meski demikian, Amar sering merasa
kurang nyaman dengan tendensi
masyarakat Singapura yang individualis.
Di samping itu, rasa rindu terhadap keluarga dan
kampung halaman juga
sering menghampirinya. Jarak
yang jauh dan jadwal kerja yang padat membuat Amar jarang bertemu dengan
keluarganya. Ia juga mengaku sering kangen dengan makanan Indonesi, yang menurutnya tidak bisa dikalahkan oleh makanan enak di Singapura sekalipun.
Untuk
kalian yang ingin studi di luar negeri, Amar membagi tips
yang berasal dari
pengalamannya selama ini. Yang terpenting adalah menyiapkan sebaik mungkin syarat-syarat umum seperti tes TOEFL. Selain itu, program S2 memiliki lebih banyak peluang jika dibandingkan dengan program sarjana.
Oleh sebab itu, selain
menyiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan,
cobalah untuk mempunyai
IP (Indeks Prestasi) yang baik. Jaga
hubungan baik dengan dosen karena surat rekomendasi dari dosen bisa menjadi point tambahan.
Amar
menyadari bahwa tak
ada yang ideal di kehidupan nyata. Ia
selalu menyiapkan rencana untuk setiap kemungkinan
terburuk. Selain itu, dia
juga tidak membandingkan diri sendiri
dengan orang lain. Baginya,
dengan mensyukuri apa yang ada,
hidup akan menjadi lebih bahagia. Ia
juga berpesan, bagi
teman-teman yang sedang berjuang
mengejar cita-cita, jangan pernah melupakan orang-orang sekitar yang
menyayangi kita, terutama orang tua.
Percuma jika kita
bekerja keras tapi
akhirnya kehilangan keluarga dan teman. (fila174)
![]() |
Amar bersama SBY (Mantan Presiden Indonesia) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar